Kegemukan dan Faktor Penyebabnya

kegemukan
Kegemukan atau obesitas menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) merupakan pidemik global. Kegemukan sendiri didefinisikan sebagai keadaan dimana lemak dalam tubuh berada dalam batas ambang yang berlebihan. Umumnya lemak ini ditimbun dalam jaringan subkutan (bawah kulit), sekitar organ tubuh dan kadang terjadi perluasan ke dalam jaringan organnya.

Obesitas dapat juga didefinisikan keadaan yang menunjukkan ketidakseimbangan antara tinggi badan dan berat badan akibat jaringan lemak dalam tubuh sehingga terjadi kelebihan berat badan yang melampaui ukuran ideal.

Wanita memiliki lemak yang lebih banyak daripada pria. Perbandingan lemak tubuh adalah sekitar 25-30% pada wanita dan sekitar 18-13% pada pria. Wanita yang memiliki lemak tubuh leih dari 30% dan pria yang memiliki lemak tubuh lebih dari 25% dianggap telah mengalami obesitas.

Obesitas dibedakan ke dalam tiga kategori, yaitu obesitas ringan dimana jika seseorang mengalami kelebihan berat badan 20-40%. Obesitas sedang dimana jika seseorang mengalami kelebihan berat badan 41-100% dan yang terakhir adalah obesitas yang berat dimana jika seseorang mengalami kelebihan lebih besar dari 100% atau lebih besar dari 2 kali berat badan idealnya.

Obesitas terjadi karena ketidakseimbangan antara asupan energi dengan keluaran energi sehingga terjadi kelebihan energi yang disimpan dalam bentuk jaringan lemak. Kelebihan energi tersebut dapat disebabkan oleh kelebihan konsumsi makanan yang berlebihan, sedangkan keluaran energi rendah disebabkan oleh rendahnya metabolisme tubuh, aktifitas fisik dan efek termogenesis makanan. Sebagian besar gangguan hemostasis energi ini disebabkan oleh faktor ideopatik (obesitas primer dan atau nutritional) sedangkan faktor endogen (obesitas sekunder atau non nutritional, yang disebabkan oleh kelainan sindrom atau defek negative) hanya mencakup kurang dari 10% kasus.

Faktor penyebab obesitas

Berikut kita bahas lebih dalam beberapa faktor dan aktivitas yang dapat mempengaruhi obesitas :

1. Keturunan atau genetik.

Baru-baru ini melalui sebuah studi, para peneliti menemukan adanya hubungan factor genetic dengan obesitas pada anak. Metode yang digunakan disebut Genome-wide Complex Trait Analysis (GCTA), untuk menyelidiki heritabilitas genetika molekuler dari berat badan pada anak-anak. Clare Llewellyn dari UCL Health Behaviour Research Centre dan penulis utama studi tersebut, mengatakan: “Temuan ini penting karena mereka mengkonfirmasi bahwa gen anak-anak memainkan peran yang sangat penting dalam menentukan berat badan. Studi ini menggaris bawahi pentingnya efek genetik pada obesitas, mendukung pemikiran saat ini bahwa anak-anak dari orang tua yang mengalami obesitas cenderung memiliki risiko kegemukan yang tinggi. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa rata-rata faktor genetik memberikan pengaruh sebesar 33% terhadap berat badan seseorang.

2. Lingkungan dan Kebiasaan. Diantaranya :

Terlalu banyak makan dan jarang olahraga. Tentu saja hal ini mengakibatkan penumpukan lemak dalam tubuh yang berasal dari pencernaan makanan yang dimakan. Akibat tidak digunakan untuk berolahraga, sumber energi yang bearsal dari makanan ini di simpan dalam bentuk lemak tubuh.

Lingkungan terlalu dingin (akibat air conditioner). Dikutip dari My Health News Daily, saat tinggal terus menerus di suhu yang nyaman tubuh tidak perlu bekerja untuk mendinginkan atau menghangatkan tubuh. Hal ini berakibat kelebihan energi untuk hal tersebut lagi-lagi ditumpuk dan disimpan dalam tubuh dalam bentuk lemak.

Kurang Tidur. Menurut penelitian kurang tidur juga dapat mengakibatkan obesitas. Saat seseorang kurang beristirahat, kondisi tersebut bisa mempengaruhi pembentukan glukosa yang pada akhirnya menyebabkan diabetes. Kurang tidur bisa menambah rasa lapar. Selain itu menyebabkan tubuh merasa lelah sepanjang hari sehingga aktivitas fisik pun berkurang. Kurangnya olahraga dan ketidakaktifan fisik bisa memicu berat badan naik lebih cepat.

Menyalakan lampu saat tidur. Kebiasaan menyalakan lampu saat tidur menyebabkan anda sering terbangun. Terbangun di malam hari berpotensi membuat anda lapar dan mengudap makanan yang ada di dapur.

Polusi. Menurut hasil studi yang dilansir Critical Reviews in Food Science and Nutrition, polusi bisa memengaruhi metabolisme tubuh. Zat-zat berbahaya seperti endocrine (zat kimia yang terdapat pada plastik) dan sisa pembakaran sampah yang ditemukan dalam tubuh manusia, sering dihubungkan dengan obesitas. Begitu juga dengan zat yang terdapat dalam pestisida. Zat-zat ini mengganggu sistem kinerja tubuh dan menghambat metabolisme.

3. Penyakit.

Hipotiroidisme, merupakan penyakit kelainan hipotalamus yang menyebabkan perubahan keseimbangan hormonal dalam tubuh yang memicu penimbunan lemak dalam tubuh. Penyakit lain yang bisa menyebabkan obesitas adalah sindroma cushing, sindroma prader-will dan beberapa penyakit kelainan syaraf yang bisa menyebabkan seseorang banyak makan.

Obesitas tentunya sangat berbahaya bagi penderitanya. Terbukti obesitas dapat meningkatkan resiko berbagai macam penyakit dan gangguan kesehatan. Orang yang mengalami obesitas relatif lebih mudah terkena komplikasi beragai penyakit seperti misalnya diabetes melitus, jantung koroner dan stroke.

Jadi dapat disimpulkan kegemukan itu berbahaya, solusi paling sederhana mencegah obesitas adalah dengan memulai pola hidup sehat. Olahraga teratur, perbanyak makan buah, sayuran dan berbagai makanan berbahan dasar kedelai, stop merokok, serta menghentikan konsumsi alkohol.

-dari berbagai sumber-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s